Fathin, keluarga nya, kesedihan ku
Hari ini Fathin datang lagi. Setelah satu tahun, kurang lebih dua Tahun tidak main dan bermalam disini.
Entah mengapa kedatangan dia mengingatkan aku pada Rizal.
Awalnya kami berdua biasa biasa saja. Dimulai dari keengganan dia untuk tidur di kamarku. Mungkin dia melihat ekspresi kecilku yang keberatan dia tidur satu ruangan denganku. Atau mungkin dia tidak nyaman karena aku kurang menyambut nya saat dia tiba dirumah. Aku tidak menyalahkan dia. Mungkin dia tidak pernah melihat aku yang seperti ini. Iya aku yang seperti ini. Rasa kesepian yang begitu parah. Aku tidur. Banyak sekali tidur. Aku tidur untuk membalas semua kemarahanku semua kesepian semua kesedihanku. Aku tidur untuk membawa diriku. Menyelamatkan diriku. Karena tidak ada lagi yang harus kukerjakan. Jurusan tidak juga memanggil ku sidang. Sebulan setelah aku membawa diriku mendaftar kesana. Ditambah lagi belum ada satupun perusahaan yang memanggilku interview ditengah banyaknya CV yang aku aplykan pada mereka semua. Diperparah dengan menipis nya kondisi keuanganku dan keuangan ibuku.
Aku ingin membahagiakan Fathin. Dengan mengajaknya pergi. Dengan mengajaknya nonton. Tidak aku kira hal ini akan berakhir dengan sebegitu menyakitkan nya.....
Uang
Iya mungkin itu masalahnya
Aku tidak punya uang untuk membahagiakannya..
Aku tidak punya cukup uang untuk membahagiakannya
Disaat teller bioskop meminta uang receh aku berkata tidak ada.
Namun Fathin seperti berkata ada
Tapi entah mengapa setelah memberikan uang sepuluh ribu ia langsung cemberut. Mungkin dia berharap aku membayari sebagai artian aku yang tanggung jawab penuh membiayai keperluan menonton film pergi kita kali ini
Setelah menunggu beberapa lama, kami akhirnya diperbolehkan untuk masuk studio karena ruang bioskop sudah open
Sebelum masuk ke studio aku menahan kami, karena dia terlihat tidak mau masuk dahulu, entah apa perasaan aku saja. Mungkin dia heran kenapa aku menahan kami untuk masuk. Kak aku mau beli minum dulu. Dia bilang seperti itu. Kakak mau? Ah enggak usah. Buat kamu saja. Mungkin seharusnya aku yang bayarin minuman yang dia beli. Bukan dia. Ini malah dia mau bayarin minuman aku. Bukan bukan seperti itu seharusnya.
Tiba saatnya pulang. Aku terkejut melihat Suasana diluar. Iya diluar panas sekali. Sangat beda dengan beberapa hari ini hujan. Sampai tibalah saatnya kami menunggu angkot. Dia pun heran karena kami harus menaiki lagi jembatan penyeberangan. Karena dia terbiasa menyebrang zebra cross. Kami menunggu di fly over jembatan Arif Rahman hakim. Ditempat sekolah masjid terminal. Mungkin lagi lagi dia memperhatikan ekspresi kecilku. Kak naik grab car saja yuk, yasudah aku menuruti permintaannya karena pertimbangan aku tidak mau mengikutsertakan dia dalam keadaan susah. Aku tidak pernah mengikutsertakan temanku adik adik ku atau siapapun. Sementara aku dalam kesusahan. Aku terbiasa sudah iya dari kecil aku terbiasa hidup susah meskipun orang tuaku kaya raya, bapakku selalu mendidik ku dengan keras. Dia yang selalu membuat menempaku. Hidup prihatin dan hidup susah. Dia lah yang mengajarkan.
Entah apa yang menyebabkan. Driver Go-Jek yang kami pesan masih di ITC. Bagaimana bisa kami balik lagi ke ITC ..
Aku sangat kesal pada driver Go-Jek itu.
Masa kami harus balik lagi ke ITC. Kekesalan juga bertambah pada Fathin. Kenapa kita harus nurutin permintaan driver Go-Jek itu.?.
Aku sudah memperkirakan. Mobil yang kami tumpangi pasti lewat sini. Karena kami bukan kemargonda. Entah. Aku sebel banget sama driver mobil gojek itu...
Akhirnya kami pun menyebrang. Dan ketika menyebrang kami masih menunggu mobil itu datang. Aku pun masih marah pada Fathin dan menampakkan raut muka marahku. Ketika mobil datang Fathin kebingungan. Dia menanyakan pada drivernya, celingak celinguk, mungin memastikan apakah itu benar atau tidak driver yg dimaksud. Lagi lagi aku kesal dengan dia, sudah benar dia duduk di depan, kenapa dia malah duduk dibelakang?
Aku tidak bisa, untuk saat ini tidak bisa duduk didepan, itu sama saja aku harus ngobrol dengan driver grabnya, padahal kalian tau aku masih sangat kesal dengan driver itu. Ditambah lagi dalam saat saat belum dapat kerja belum wisuda seperti saat ini aku tidak ingin melindungi orang lain. Aku ingin sejenak bebas dari tugas itu...
Dan lagi..
Driver itu bertanya
Ini sebenarnya tujuannya mau keman sih?
Aku lalu menjelaskan masjid Mujahidin. Mungkin drivernya kurang paham daerah rumahku
Entah mengapa kedatangan dia mengingatkan aku pada Rizal.
Awalnya kami berdua biasa biasa saja. Dimulai dari keengganan dia untuk tidur di kamarku. Mungkin dia melihat ekspresi kecilku yang keberatan dia tidur satu ruangan denganku. Atau mungkin dia tidak nyaman karena aku kurang menyambut nya saat dia tiba dirumah. Aku tidak menyalahkan dia. Mungkin dia tidak pernah melihat aku yang seperti ini. Iya aku yang seperti ini. Rasa kesepian yang begitu parah. Aku tidur. Banyak sekali tidur. Aku tidur untuk membalas semua kemarahanku semua kesepian semua kesedihanku. Aku tidur untuk membawa diriku. Menyelamatkan diriku. Karena tidak ada lagi yang harus kukerjakan. Jurusan tidak juga memanggil ku sidang. Sebulan setelah aku membawa diriku mendaftar kesana. Ditambah lagi belum ada satupun perusahaan yang memanggilku interview ditengah banyaknya CV yang aku aplykan pada mereka semua. Diperparah dengan menipis nya kondisi keuanganku dan keuangan ibuku.
Aku ingin membahagiakan Fathin. Dengan mengajaknya pergi. Dengan mengajaknya nonton. Tidak aku kira hal ini akan berakhir dengan sebegitu menyakitkan nya.....
Uang
Iya mungkin itu masalahnya
Aku tidak punya uang untuk membahagiakannya..
Aku tidak punya cukup uang untuk membahagiakannya
Disaat teller bioskop meminta uang receh aku berkata tidak ada.
Namun Fathin seperti berkata ada
Tapi entah mengapa setelah memberikan uang sepuluh ribu ia langsung cemberut. Mungkin dia berharap aku membayari sebagai artian aku yang tanggung jawab penuh membiayai keperluan menonton film pergi kita kali ini
Setelah menunggu beberapa lama, kami akhirnya diperbolehkan untuk masuk studio karena ruang bioskop sudah open
Sebelum masuk ke studio aku menahan kami, karena dia terlihat tidak mau masuk dahulu, entah apa perasaan aku saja. Mungkin dia heran kenapa aku menahan kami untuk masuk. Kak aku mau beli minum dulu. Dia bilang seperti itu. Kakak mau? Ah enggak usah. Buat kamu saja. Mungkin seharusnya aku yang bayarin minuman yang dia beli. Bukan dia. Ini malah dia mau bayarin minuman aku. Bukan bukan seperti itu seharusnya.
Tiba saatnya pulang. Aku terkejut melihat Suasana diluar. Iya diluar panas sekali. Sangat beda dengan beberapa hari ini hujan. Sampai tibalah saatnya kami menunggu angkot. Dia pun heran karena kami harus menaiki lagi jembatan penyeberangan. Karena dia terbiasa menyebrang zebra cross. Kami menunggu di fly over jembatan Arif Rahman hakim. Ditempat sekolah masjid terminal. Mungkin lagi lagi dia memperhatikan ekspresi kecilku. Kak naik grab car saja yuk, yasudah aku menuruti permintaannya karena pertimbangan aku tidak mau mengikutsertakan dia dalam keadaan susah. Aku tidak pernah mengikutsertakan temanku adik adik ku atau siapapun. Sementara aku dalam kesusahan. Aku terbiasa sudah iya dari kecil aku terbiasa hidup susah meskipun orang tuaku kaya raya, bapakku selalu mendidik ku dengan keras. Dia yang selalu membuat menempaku. Hidup prihatin dan hidup susah. Dia lah yang mengajarkan.
Entah apa yang menyebabkan. Driver Go-Jek yang kami pesan masih di ITC. Bagaimana bisa kami balik lagi ke ITC ..
Aku sangat kesal pada driver Go-Jek itu.
Masa kami harus balik lagi ke ITC. Kekesalan juga bertambah pada Fathin. Kenapa kita harus nurutin permintaan driver Go-Jek itu.?.
Aku sudah memperkirakan. Mobil yang kami tumpangi pasti lewat sini. Karena kami bukan kemargonda. Entah. Aku sebel banget sama driver mobil gojek itu...
Akhirnya kami pun menyebrang. Dan ketika menyebrang kami masih menunggu mobil itu datang. Aku pun masih marah pada Fathin dan menampakkan raut muka marahku. Ketika mobil datang Fathin kebingungan. Dia menanyakan pada drivernya, celingak celinguk, mungin memastikan apakah itu benar atau tidak driver yg dimaksud. Lagi lagi aku kesal dengan dia, sudah benar dia duduk di depan, kenapa dia malah duduk dibelakang?
Aku tidak bisa, untuk saat ini tidak bisa duduk didepan, itu sama saja aku harus ngobrol dengan driver grabnya, padahal kalian tau aku masih sangat kesal dengan driver itu. Ditambah lagi dalam saat saat belum dapat kerja belum wisuda seperti saat ini aku tidak ingin melindungi orang lain. Aku ingin sejenak bebas dari tugas itu...
Dan lagi..
Driver itu bertanya
Ini sebenarnya tujuannya mau keman sih?
Aku lalu menjelaskan masjid Mujahidin. Mungkin drivernya kurang paham daerah rumahku
- Aku juga menjelaskan kami harus putar balik dan masuk lagi ke fly over Arif Rahman hakim.
Comments
Post a Comment